• SMA NEGERI 1 CIRANJANG
  • BIJAKS : Berprestasi, Inovatif, Jujur, Agamis, Kreatif, Sehat

Perang Sarung, Budaya atau Kriminalitas ?

Penulis  : Agus Sujarwadi, S.Sos.

 

 

 

PERANG SARUNG, BUDAYA ATAU KRIMINALITAS ?

 

Indonesia merupakan negara dengan beraneka ragam budaya dan kebiasaan. Lebih dari 1.300 suku bangsa tersebar di hamparan bumi nusantara ini, dan di setiap suku mempunyai banyak budaya dan kebiasaan daerahnya masing-masing.  Diantara budaya-budaya tersebut, ada yang dilakukan oleh masyarakat sepanjang tahun dan adapula budaya yang muncul di waktu-waktu tertentu saja. Beberapa budaya yang ditemui di masyarakat merupakan warisan nenek moyangnya, dan tidak sedikit pula budaya yang dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan masyarakat ataupun budaya dari luar daerah.

Dalam menyikapi budaya-budaya yang kita jumpai di daerah kita, sifat kedewasaan sangatlah diperlukan. Seyogyana kita harus bisa mem-filter budaya yang ada apakah sesuai dengan budi pekerti bangsa Indonesia dan agama kita masing-masing atau  bahkan merusak moral generasi muda. Jangan sampai kebiasaan yang cenderung bersifat negatif, ditelan mentah-mentah dan diwariskan kepada anak cucu kita begitu saja. Karena tidak sedikit terdapat kebiasaan-kebiasan masyarakat yang justru bisa merusak akhlak generasi muda dan menimbulkan masalah dalam masyarakat.

Dalam artikel ilmiah ini, penyusun akan membahas salah satu budaya yang sering kita jumpai di daerah sekitar. Di Kampung Kebon Manggu RW 15 Kelurahan Sawah Gede Kecamatan Cianjur, terdapat budaya yang selalu dilakukan anak-anak remaja memasuki bulan suci Ramadhan. Budaya ini dikenal dengan “Perang Sarung” namanya. Sekelompok remaja laki-laki dari suatu titik berkumpul, dan dari titik yg lain berkumpul pula kelompok yang lain yang siap menyerang. Masing-masing remaja dari kedua kelompok membawa senjata berupa sarung yang sudah dibentuk seperti alat pemukul. Ketika kedua kelompok sudah siap, maka peperangan pun terjadi. Kedua belah pihak saling serang dengan senjata sarungnya. Perang sarung ini biasanya terjadi di waktu subuh setelah sahur menunggu waktu sholat subuh tiba atau malam hari setelah sholat taraweh.

Jaelani (17 tahun) adalah seorang remaja yang ikut serta dalam Perang Sarung tersebut. “Seru  saja,  saya suka ikutan perang ini setiap bulan romadon tiba. Biar ga tidur lagi setelah sahur”, begitu jawaban dari Jaelani saat ditanya tanggapannya tentang Perang Sarung yang sering ia ikuti. Jika kita lihat dari jawaban Jaelani tersebut, terdapat dampak positif dari budaya perang sarung yang ada di kampung Kebon Manggu, remaja di kampung itu terlepas dari kebiasaan buruk tidur setelah sahur hingga tidak melaksanakan sholat subuh. Sambil mengisi waktu setelah sahur, mereka isi dengan melestarikan budaya daerah mereka. Meski tidak sebaik kegiatan positif lainnya seperti tadarusan, itikaf, atau amalan romadhon lainnya, perang sarung dijadikan waktu untuk menunggu waktu solat subuh tiba. Selain itu, dampak positif lainnya dari perang sarung ini, dapat mempererat silaturahmi antar remaja yang berasal dari daerah yang sama. Ajang ini menjadi moment yang pas untuk mereka saling mengenal dan meningkatkat rasa persaudaraan.

Lalu, apakah tidak ada dampak negatif dari budaya perang sarung ini? Tentu saja ada dampak negatifnya. Ya…., nama “Perang sarung” memang menyeramkan. Seseram dampak negatif yang ditimbulkan dari budaya ini. Saat perang ini terjadi, selalu ada saja oknum yang berbuat curang. Beberapa diantara mereka ada yang merekayasa sarung yang dijadikan senjata dalam perang tersebut. Sebuah batu mereka masukkan ke dalam sarung, lalu dikitat dengan tali. Seharusnya ujung sarung yang dipukulkan ke lawan adalah, sarung kosong yang diikat. Tentu ini tidak akan menimbulkan luka saat dipukulkan. Namun oknum-oknum yang memasukkan batu ke dalam sarung, membuat sarung tersebut menjadi senjata yang menyeramkan, karena akan menimbulkan luka jika terkena lawan.

Ragil (15 tahun) adalah salah satu korban dari perang sarung yang ada di Kampung Kebon Manggu tahun 2019. Wajahnya berdarah dan harus dilarikan ke rumah sakit setelah terkena pukulan sarung berbatu dari oknum lawannya yang tidak bertanggung jawab. Untung saja lukanya tidak seriung, hanya luka luar yang memerlukan beberapa jahitan. Ini adalah salah satu dampak negatif dari budaya perang sarung yang ada di kampung Kebon Manggu, tentunya sudah masuk ke ranah kriminalitas. Setelah kejadian ini, setiap kali ada kelompok-kelompok remaja di waktu subuh atau malam di bulan Ramadhan selalu diantisipasi oleh penduduk sekitar agar tidak melakukan perang. Bahkan satu waktu, perang ini kembali terjadi dan dibubarkan oleh salah satu ormas Islam yang ada disana. Bahkan beberapa anggota ormas tersebut berjaga setiap malam dan subuh untuk mencegah perang sarung kembali terjadi. Untuk sementara waktu situasi dapat dikendalikan, namun pada saat kontrol dari penduduk dan ormas tersebut sudah tidak ada, perang kembali terjadi.

Meskipun pernah jatuh korban, namun hingga saat ini budaya perang sarung masih dilakukan. Di satu sisi, sekelmpok remaja ingin merasanya keseruan budaya perang sarung di kampungnya. Namun di sisi lain, orang tua dan penduduk lainnya merasa cemas dan takut jatuh korban lagi jika ada lagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengotori budaya perang sarung ini. Jadi, apakah perang sarung ini adalah budaya? Atau kriminalitas?. Semoga  budaya ini tidak punah karena ulah mereka yang tidak bertanggung jawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

Verifikator           : Deden Royani, S.T., M.H. (Wakasek Kurikulum SMA Negeri 1 Ciranjang)
Admin Websites  :Resta Cahya Nugraha, S.Pd

Komentar

FakeSmile

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Bedor Teater Tradisional, Terkikis Hampir Habis

Penulis  : Indra Hendrawan, S.Pd.   BEDOR TEATER TRADISIONAL, TERKIKIS HAMPIR HABIS   Indonesia memiliki keberagaman seni tradisional yang melimpah, minat masyarakat

10/02/2022 09:33 - Oleh Administrator - Dilihat 901 kali